BUKU HARIAN PRAJURIT
Oleh :
Mansur Samin
1. malam tengadah di atas kaca
akan sepi bermukim asing di
sini napas sisi jendela, jeriji
besi-besi tua menghisap angin
dingin atas kekerdilan hati
Mengapa palu itu tak segera memutus
apah mereka tahu aku bukan
pembunuh hukum dunia mengnal noda
untuk kira-kira dada bunda hanya
kenal sorga atau neraka
Malam tengadah di atas kaca
jauh dari hati melebur hari-hari
pergi kalung mentega, lonceng
gereja dan layap mata diliput
batin ini antara hidup dan mati
kalaupun sesal tinggal dendam
berbeda harap dengan permintaan
2. Demi hukum keadilan, haii anak lajang
! tabir dosa kekal adalah
garis penyelesaian memberatimu
saksi tangan, titik bukti tebal adakah misal satu-satunya kau kenal ?
Begitu hati, wahai hati yang takut
mati sampaikan salam dunia dan
diri sepi kuyup mata, ruang dahaga
dan doa setiap bunda tiada
mengharapkan dosa
Demi hukum keadilan haii anak lajang
! kami bawakan pelita melewati
jalan-jalan sesal kitab suci,
sumpah murni dan tangis hati akan
memberkahi segi-segi yang bakal lahir
Dalam pemeriksaan dan misal
kelanjutan lenyap nilai jawab di
tubuh jatuh terlentang
3. Dari hati yang tersirat, pengadilan
yang terhormat ! aku bukan
pembunuh Tuhan pun tahu hidup
ini bermain pada kira-kira dan sia-sia dosa kita mencari bukti dalam misal
Jika salamku hilang ke tengah dunia
kasih pada hari-hari silam belum
berakhir dengan dosaku dan kemelut
tahun yang berduka tinggal garis
henti, semua kata hilang arti
Konfrontasi No. 32,
1959
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian
Tanah Air
|
About the Author
Unknown
Author & Editor
Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.
Posting Komentar