Kamis, 07 Mei 2015

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

  mendadak kau mengabut dalam kamar, mencari dalam cermin;tapi cermin buram kalau kau entah di mana, kalau kau mengembun dan menempel di kaca, kalau kau mendadak menetes dan tepercik ke mana-mana;
dan cermin menangkapmu sia-sia
 
 
 
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
 

CERMIN, 2

Oleh :
Sapardi Djoko Damono
 
cermin tak pernah berteriak;ia pun tak pernah meraung, tersedan, atau terhisak,
meski apa pun jadi terbalik di dalamnya;
barangkali ia hanya bisa bertanya:
mengapa kau seperti kehabisan suara?
 
 
 
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.  

CERMIN 1

Oleh :
Sapardi Djoko Damono
 
bagaimanakah cara membunuh burung yang suka berkukuk bersama teng-teng jam dinding yang tergantung sejak kita belum dilahirkan itu?
soalnya ia bukan seperti burung-burung yang suka berkicau setiap pagi meloncat dari cahaya ke cahaya di sela-sela ranting pohon jambu (ah dunia di antara bingkai jendela!)
soalnya ia suka mengusikku tengah malam, padahal aku sering ingin sendirian
soalnya ia baka
 
 
 
  Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
 

CARA MEMBUNUH BURUNG

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

 

seuntai kuntum melati yang di ranjang itu sudah berwarna coklat ketika tercium udara subuh dan terdengar ketukan di pintu
tak ada sahutan
seuntai kuntum melati itu sudah kering: wanginya mengeras di empat penjuru dan menjelma kristal-kristal di udara ketika terdengar ada yang memaksa membuka pintu
lalu terdengar seperti gema "hai, siapa gerangan yang telah membawa pergi jasadku?"
 
 
 
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.
 

BUNGA 3

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

mawar itu tersirap dan hampir berkata jangan ketika pemiliktaman memetiknya hari ini; tak ada alasan kenapa ia ingin berkata
jangan sebab toh wanita itu tak mengenal isaratnya -- tak ada
alasan untuk memahami kenapa wanita yang selama ini rajin
menyiraminya dan selalu menatapnya dengan pandangan cinta itu
kini wajahnya anggun dan dingin, menanggalkan kelopaknya
selembar demi selembar dan membiarkannya berjatuhan menjelma
pendar-pendar di permukaan kolam
 
 
 
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982. 

BUNGA 2

Oleh :
Sapardi Djoko Damono



(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi terbit;
siangnya cuaca berdenyut ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru serigala.
Tapi katanya, "Takut?  Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan udara ternyata sangat pekat dan tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia membayangkan hutan terbakar dan setelah api ....
Teriaknya, "Itu semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia!  Aku ini si bunga rumput: pilihan dewata!"
 
 
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.

BUNGA 1

Oleh :
Sapardi Djoko Damono

 
waktu berjalan ke barat di waktu pagi hari matahari mengikutiku di belakang
aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang di depan
aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang
aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan
  

BERJALAN KE BARAT WAKTU PAGI HARI

 
Kumpulan Puisi © 2015 - Blogger Templates Designed by Templateism.com