Oleh :
Sapardi Djoko Damono
(i)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia rekah di tepi padangwaktu hening pagi
terbit;
siangnya cuaca berdenyut
ketikanampak sekawanan gagak terbang berputar-putar di atas padang itu;
malam hari ia mendengar seru
serigala.
Tapi katanya, "Takut?
Kata itu milik kalian saja, para manusia. Aku ini si bunga rumput, pilihan dewata!"
(ii)
Bahkan bunga rumput itu pun berdusta.
Ia kembang di sela-selageraham batu-batu gua pada
suatu pagi, dan malamnya menyadari bahwa tak nampak apa pun dalam gua itu dan
udara ternyata sangat pekat dan
tercium bau sisa bangm dan terdengar seperti ada embik terpatah dan ia
membayangkan hutan terbakar dan
setelah api ....
Teriaknya, "Itu
semua pemandangan bagi kalian saja, para manusia! Aku ini si bunga rumput:
pilihan dewata!"
Perahu Kertas,
Kumpulan Sajak,
1982.